Untuk priaku disana
Mungkin harusnya catatan kecil ini berjudul 'untuk priaku disini, dihatiku'
aku rasa itu judul yang lebih tepat. Namun sudahlah, yang terpenting catatan
ini tetap untuk priaku.
240213 09.46Am
Hari ini, saat aku menulis catatan ini tepat 86 hari 46 menit (perkiraan)
setelah kita berkomitmen dalam hubungan ini.
Priaku, entah apa yang harus aku katakan padamu. Tapi jauh disini, didalam
hatiku terdapat sebuah ungkapan yang sudah memaksa untuk keluar dan terbang
menuju pemiliknya.
Priaku, entah sudah berapa kali aku mengatakan bahwa aku menyayangimu. Tapi
rasanya berkali-kali aku mengatakannya tetap saja tidak pernah cukup untuk
menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Priaku, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Saat itu
kamu melintas begitu saja dihadapanku, diujung ruangan aku mengagumi sosokmu
pada pandangan pertama itu. Namun setelahnya aku mulai takut melihat caramu
memandang yang seakan dingin dan tidak bersahabat, ditambah mata sipitmu yang
memperkuat kesan itu.
Selama tiga bulan kita bertemu dengan intensif aku mulai menyukaimu.
Sosokmu semakin bersahabat dan tatapanmu justru membuatku tampak seperti coklat
dimusim panas. Mencair dan terus semakin mencair.
Priaku, saat kita mulai menjauh dan kamu mulai hilang tanpa meninggalkan
jejak sedikitpun, aku mulai berpikir untuk mencari pria lain. Namun setelah aku
sukses mendapatkan pria lain, aku justru berpikir mencari pria lain adalah
langkah yang salah.
Priaku, aku mulai menyayangimu walaupun aku bersama pria lain. Hingga akhirnya kamu mengakui bahwa kamu
tidak benar-benar sendiri. Kamu memiliki seseorang disana, kalian saling
memiliki. Priaku, apa kamu tau seberapa hancurnya aku saat itu? Bahkan saat
kamu bercerita panjang kali lebar tentang wanitamu aku masih dengan ikhlas
memberikan sedikit kata penguat untukmu.
Aku tau saat itu priaku juga hancur karena hubungannya yang kian memburuk.
Dan aku hanya tidak ingin priaku semakin hancur.
"Priaku tetap harus tersenyum. Priaku tetap harus kuat. Biar aku yang
menjauh bila itu bisa membuatnya bahagia" pikirku saat itu.
Sejak pembicaraan malam itu, aku benar benar mulai menjauh darimu.
"Sekarang al yang ilang-ilangan" katamu (gtalk)
Priaku, apa kamu tau seberapa senangnya aku saat menerima pesan singkat
atau chat darimu?
Aku sering meloncat kegirangan untuk kata sapa yang kamu kirim
"Al" atau "hai" ya hanya dua sampai tiga huruf yang
seharusnya tidak begitu berarti.
Priaku, saat kamu mengatakan ingin membuka lebaran baru dan menutup yang
telah usang bersamaku, rasanya..... Ah tidak bisa diungkapkan :)
Ya tapi aku menyembunyikannya darimu, aku memasang wajah tidak tertarik
didalam kebahagiaan yang teramat sangat.
Saat idul fitri ditahun itu ibu menyuruhku untuk mengundangmu kerumah. Kamu
mengiyakannya. Namun dua jam setelahnya kamu mengatakan tidak bisa. Priaku,
saat kamu berbohong tentang kehadiranmu aku menangis. "Tolol,
bodoh!!!!!" Aku terlalu berharap sesuatu yang tidak akan mungkin.
Derajat kita terlalu jauh, tidak ada raja yang mau menyambangi gubuk
pesuruhnya.
Namun tak selang beberapa lama aku terkejut saat kamu mengatakan "aku
sudah sampai" raja menurunkan derajatnya, priaku datang :)
Priaku, saat kamu bercakap dengan keluarga kecilku dan nenekku, sungguh
perasaanku yang beragam mengaduk-aduk aliran darahku.
Agustus dan september berlalu dengan hubungan yang tidak terlalu intensif
namun tetap berpegang. Pergantian bulan september menuju oktober kamu mulai
menghilang (lagi). Ini ketiga kalinya kamu
menjauh. Tidak ada kabar (lagi) bahkan anginpun tidak ada yang membawa
berita tentangmu (lagi).
Ini ulang tahunku!!!!
Priaku, jujur aku sangat berharap kamu datang. Paling tidak mengatakan sedikit
bait manis. Namun kamu tidak kunjung datang. Dan kamu malah menghilang.
Oktober 25, kamu pergi bersama 'exnik'. Aku menbacanya diblog itu. Priaku,
apa kamu tau bagaimana aku saat membacanya dan melihat fotomu dan 'exnik'
terpampang dengan senyum bahagia?
Saat itu kita jauh, apa ini alasannya mengapa kamu menjauh?
Priaku, saat aku membaca catatan diblog itu tidak sedikitpun aku meneteskan
air mata. Tapi apa kamu tau jika aku sangat terluka?
Dibulan berikutnya kamu mendekati seorang wanita cantik. Namanya Meilia
Putri. Mungkin kamu telah melupakannya. Namun wanita itu masih mengingatnya
dengan jelas. Apa kamu ingat dibulan itu kita kembali dekat? Lalu untuk apa
kehadiranku jika kamu tetap mencari wanita lain?
Priaku, dibulan berikutnya kamu mengatakan hal yang sangat mengagetkan.
Kamu mengajakku masuk kedalam hubungan yang sudah lama menjadi impianku. Saat
kamu mengatakannya jujur aku sangat tidak percaya dengan telingaku. Setelah
meyakinkan pendengaran, otakku berpikir keras "apa ini hanya sebuah lelucon
atau....?"
Priaku, setelah lima belas hari aku dan kamu menjadi kita, kamu menghilang
(lagi). Priaku, aku sempat berpikir apa kamu telah sadar dan menganggap
hubungan ini sebuah kesalahan atau mungkin kamu telah bosan berhubungan dengan
gadis kecil yang masih sangat abu-abu?



