Aku sempat khawatir dengan hubungan ini. sejak 2 minggu sebelum pergantian
tahun, kamu mulai mengurangi intensitas hubungan kita. Dan setelahnya kamu
malah enggan bertemu, walau untuk menyelesaikan semuanya.
Hingga dua wanita cantik datang dan menyapaku disalah satu akun jejaring
sosial milikku. Dari apa yang meraka bicarakan diawal, tampak ketidak akuran
diantara mereka. Namun 'ah siapa peduli', bukan itu yang menjadi
permasalahannya. Status salah satu dari mereka yang merupakan 'exnik' lah
masalahnya.
Wanita cantik itu terlihat begitu menyimpan rasa. Mungkin perasaan yang
sama sepertiku, mungkin juga lebih. Sementara wanita lainnya kini telah menjadi
temanku. Dia bercerita banyak tentang kamu, mulai dari bagaimana pertengkaran
antara kedua wanita cantik itu bisa terjadi hingga bagaimana kamu mencoba
mendekatinya dulu. Yang aku kagetkan adalah kamu berusaha kembali mendekatinya
dibulan november (pengakuan wanita cantik), tepat satu bulan sebelum kamu
mengajakku menjalin hubungan sederhana ini.
'Aku pelarian' pikirku singkat.
Pikiranku semakin kacau. Kamu yang semakin acuh ditambah mereka yang
membuatku mati akan cemburu, telah mendominasi masalah yang aku hadapi.
200113
Tepat 51 hari setelah kita bersama, aku memutuskan untuk menyudahi
semuanya. Namun kamu tampak tidak begitu setuju dengan kepetusanku. Kamu tidak
meng-iya-kan, juga tidak menolaknya. Hubungan kita semakin menggantung, semakin
berantakan.
Salahku yang memutuskanmu tanpa menceritakan apa masalahnya. Wajar jika
kamu tidak menjawab dengan alasan bingung. Bukannya aku tidak mau, tapi percuma
saja. Kamu tidak pernah mendengarkan, lalu untuk apa aku menceritakannya?
Mungkin kamu menganggap ini lelucon anak ingusan yang tolol. Tapi ingat, anak
ingusan adalah makhluk polos yang selalu jujur apa adanya. Iya, itu aku, anak
ingusan polos yang sanggup bertahan hingga sekarang.
Beberapa minggu setalah masa-masa sulit hubungan ini, kamu datang mengajak
keluar untuk sekedar berbagi rindu. Disana aku mulai menanyakan tentang dua
wanita cantik dan masa lalu kamu. Kamu menjawabnya dengan cepat, tampak
kejujuran mendalam disetiap pengakuanmu.
Inti dari percakapan malam itu:
Kamu sudah tidak lagi mencintai 'exnik', namun kamu tetap berteman
dengannya. Kamu tidak mendekati wanita manapun sejak kita saling menyimpan rasa
hingga saat ini. Semua yang aku khawatirkan 'salah', semua kecemburuanku tidak
seharusnya ada. Kamu menganggap hubungan
ini serius, dan kamu tidak malu dengan statusku yang masih pelajar tingkat
akhir.
Untuk niko haditia:
Terima kasih atas malam itu, atas waktu dan pengakuan itu. Aku juga
menganggap hubungan ini serius dan akan berujung baik. Priaku, dimataku kamu
adalah makhluk paling sempurna. Priaku, aku menyayangimu tanpa alasan apapun
selain karena kakurangan dan kelebihan pribadimu. Priaku, tolong ingatkan aku
untuk bertahan dan menguatkanmu saat hubungan kita mulai tampak retak...
Karena aku tidak pernah menginginkan patahan serius dalam hubungan kita.
Aku tidak pernah ingin merasakan sulitnya melupakanmu. Aku tidak pernah ingin
merasakan sulitnya menghapus perasaan ini.
Priaku, aku terlanjur menyayangimu dengan tulus, aku terlanjur
mempercayaimu lebih dari kepercayaanku kepada angin atau bahkan kepada diriku
sendiri. Priaku, aku meminta dengan teramat sangat, jaga hubungan ini seperti
perompak menjaga hartanya, jaga perasaanmu dan bantu aku menjaga perasaanku
seperti induk ayam dengan anaknya. Hingga kita mendapat janji penguat yang
kokoh, atau paling tidak hingga kita sama-sama lelah untuk mengasihi dan
mencintai....
Priaku, Niko Haditia....
