Aku pernah bercerita pada cermin.
Cermin bukan sekedar kata pemanis tapi memang benar adanya, sebagai sahabat
paling setia.
Kepadanya aku bercerita tentang kita,
tentang bahagia, amarah lalu menjadi
duka,
tentang tawa, teriak lalu menjadi air
mata,
tentang cinta, benci lalu menjadi dendam,
Satu yang paling klasik, yang paling
segar diingatan tapi bukan berarti paling terakhir. Sepenggal cerita ini ada
disetiap sekat hubungan kita, awal tengah bahkan akhir...
Ceritapun dimulai:
Saat pasangan lain sibuk beradu
kasih, ditepinya kita sibuk beradu argumen. Menguatkan pendapat tentang
persepsi yang tak kunjung saling mengikat.
Kau kuat akan logika mu,
kau kuat akan aku,
lalu aku terpaksa kuat untuk menerima
kekuatanmu,
ku biarkan kata maaf keluar sebagai
penawarnya. Bukan untuk membiarkan kau keluar sebagai pemenang tapi hanya untuk
membiarkan "kita" tetap memegang. Ini soal hubungan yang tak pernah
aku inginkan salah satu dari kita keluar, entah sebagai pemenang atau pencundang.
Kalau saja mudah untuk mu melunakkan
sedikit kekuatan mu, mungkin aku dapat sedikit bernafas untuk sedikit
melunakkan pikiranku. Bagaimana bisa sebuah hubungan tak kuat dipegang hanya
oleh seorang diantaranya? Sementara yang lain tanpa sadar menggoyah seakan siap
merubuhkan lalu keluar dari pagar pembatasnya.
Kau pikir cinta itu mainan?
Atau kau pikir cinta itu pertunjukan
yang membosankan?
Lalu kau pikir aku ini apa?
Sinden yang siap menghibur saat kau
kesepian?
Atau boneka yang siap kau peluk lalu
kau buang setelahnya?
Atau malah, anak kecil bodoh yang
bisa kau permainkan untuk kepuasamu....?