200313
Priaku, pagi ini aku mendadak teringat satu hal
menyebalkan, yang bahkan tidak pernah ingin aku ingat. Aku teriangat seberapa
besar (bodoh) perasaanku yang berimbas
pada pengorbananku.
Hmm mungkin terlalu berlebihan jika dikatakan
pengorbanan, namun apapun sebutannya tetap saja itu bodoh.
Pada tahun lalu tepatnya sekitar bulan juli, aku pergi keluar kota. Sebelum berangkat aku
telah menyusun jadwal sedemikian rupa agar aku dapat pulang dua hari sebelum
tanggal kita bertemu. Ya beberapa hari sebelum aku pergi kamu menghubungiku dan
berjanji untuk pergi ke flona bersamaku dihari sabtu.
Ternyata keluargaku memiliki rencana lain, mereka
ingin mengunjungi dua kota. Rencana itu dapat membuat jadwal pulang tertunda
hingga empat hari. Itu berarti aku akan pulang dihari senin. Akhirnya dengan berat hati aku
memutuskan untuk pulang sendiri ke Jakarta demi bertemu dengan kamu.
Priaku, aku belum pernah pergi ke Bandung sendiri, apalagi
kota itu yang letaknya berkali-kali dari Bandung. Untungnya ibu mau menemaniku
pulang.
Priaku, semuanya tidak berhenti sampai disitu....
Satu hari sebelum aku pulang ternyata aku
diserang demam. Suhu tubuhku meninggi
dan aku tidak kuat untuk berjalan. Ibu memintaku untuk istirahat sampai pulih
paling tidak sampai dua hari kedepan. Lagi-lagi itu berarti aku harus
melewatkan hari sabtu.
Priaku, saat itu aku menolak keras permintaan
ibu. Aku tetap ingin pulang dengan kondisi apa pun. Akhirnya aku menempuh
perjalanan dua belas jam dengan keadaan yang (dipaksakan) baik. Ibu tidak tahu
alasanku ingin tetap pulang pada rencana paling awal.
Akhirnya aku pulang tepat dihari kamis. Dihari
berikutnya aku benar-benar dalam keadaan baik. Dan aku akhirnya bisa pergi
denganmu :) Walaupun kita batal ke flona dengan alasan terlalu ramai tapi aku
tetap menikmati waktu bersamamu.....
Menjelang pergantian
tahun kamu menjanjikanku untuk menemaniku. Aku sangat antusias dengan semua
itu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku menolak ajakan ibu untuk
kepernikahan sepupuku sekaligus perkumpulan keluarga diluar kota. Aku pikir
jika aku pergi sama saja aku menghancurkan rencanaku untuk melewati pergantian
tahun denganmu.
Priaku,
saat itu hanya ada aku dan ayah dirumah. Tapi ayah terus meninggalkanku, aku
hanya sendiri.’Hmmm biar sajalah’ pikirku, toh ini semua aku jalani agar aku
bisa bertemu dengan kamu.
Tapi
nyatanya?
Yaaa kenyataannya
kamu tidak mau menemuiku. Dan sejak itu aku selalu takut saat kamu mengatakan
ingin bertemu denganku. Aku takut untuk kecewa.
Saat terakhir
kita bertemu, tepat dihari minggu. Dihari itu aku terbejak hujan dirumah
temanku. Letak rumahnya cukup jauh dari rumahku, sekitar setengah jam
perjalanan tanpa macet dan satu hingga dua jam perjalanan dengan macet.
Senin sampai
jumat aku menjalani simulasi ujian akuntasi manual, MYOB dan Accurate untuk
persiapan ujian diminggu berikutnya. Dihari sabtupun aku belajar mulai dari jam
sepuluh pagi hingga magrib. Dihari Minggu, hari dimana kita bertemu, aku
belajar mulai dari jam sembilan pagi hingga jam setengah enam sore.
Diperjalanan
pulang tubuhku basah kuyup. Bahkan sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak
badan tapi aku tidak menunjukannya padamu, hanya agar kamu tidak membatalkan
rencana kita. Padahal tepat dua hari berikutnya aku harus menjalani ujian-ujian
itu, ujian yang menentukan kelulusanku. Sesampainya dirumah aku langsung
bersiap untuk pergi denganmu J
Ini hanya
sebagian kecil hal-hal bodoh yang pernah aku lakukan untukmu
*********
Priaku,
catatan ini aku buat dengan maksud agar kamu juga bisa menghargai waktu ku. Saat
kamu membatalkan rencana kita maka saat itu juga aku benar-benar marah. Aku hanya
ingin kamu menghargaiku seperti aku menghargai kamu. Aku hanya ingin menjadi
sosok yang benar-benar tinggal dihidupmu, bukan hanya sekedar debu halus yang
harus disingkirkan.
Priaku, jika
memang kamu benar-benar tidak bisa meluangkan waktumu. Tolong jangan pernah
kamu menjanjikan apapun kepadaku. Jangan pernah mengatakan bahwa kamu ingin
bertemu denganku dan membuat aku semakin berharap.
