170313
Pagi ini aku bercakap ringan dengan ibuku. Wanita
tangguh yang telah mengerti aku seutuhnya.
Percakapan pagi ini diawali dengan membahas
tentang musik, dan juga diiringi dengan lantunan lembut dari handphoneku yang
disesuaikan dengan selera musik kami.
"Aku suka lagu ini, aku banyak tahu tentang
musik. Disekolah aku seperti radio berjalan yang tau semua lagu-lagu yang
sedang naik daun. Tapi aku tidak pernah tahu lagu-lagu yang disukai niko
(priaku). Kita sangat berbeda dalam hal musik"
Percakapan pun berlanjut masih dengan pembahasan
yang sama diselingi tawa ringan.
Namun tiba-tiba ditengah pembahasan tentang
musik, aku dan priaku, ibu bertanya "Apa niko itu benar-benar sayang sama
kamu?"
Aku yang sedang tersenyum dengan candaan ibu
sebelumnya mendadak diam. Aku terkejut bukan main.
"Aku gak tau, gak ada yang pernah tau"
Dan selanjutnya aku hanya diam sambil ditemani
handphone yang masih terus memainkan iramanya.
************
Priaku, itu keraguanku.
Priaku, aku hanya berpikir biar saja kamu bermain
denganku jika itu bisa membahagiakanmu. Satu hal yang pasti aku tidak pernah
bermain denganmu. Aku tidak pernah bermain dengan perasaanku padamu. Bagiku
memilikimu adalah hal yang indah tapi juga sulit.
Priaku, mungkin kamu tidak pernah sadar bahwa aku
ini wanita kecil yang masih membutuhkan perhatian, sama seperti yang lain. Aku
sangat sadar, bila aku mencari perhatian dengan pria lain itu berarti aku
terlah menyakitimu. Atau paling tidak aku telah berlaku curang. Namun apa aku
harus terus menanti perhatianmu yang sangat amat perlu dipertanyakan
keberadannya?
Priaku, aku sadar akhir-akhir ini aku jarang
menghubungimu. Itu bukan berarti karena aku sudah tidak peduli lagi denganmu.
Namun itu karena aku menunggu kamu untuk peduli denganku.
Priaku, apakah mengharap perhatianmu dan
mengharap kepedulianmu adalah hal yang salah? Jika tidak, mengapa menunggu dan
mengharapkan hal itu sangat menyakitkan? Jika iya, mengapa tidak kau biarkan
saja aku..........
Pria lain???
Ah sudahlah....
Priaku, aku pernah berpikir, andai saja kita bisa
berganti peran. Mungkin itu akan sedikit menyadarkan masing-masing pribadi
kita.
Priaku, aku tidak menyalahkanmu atas semua ini.
Aku justru menyalahkan diriku, harusnya dari awal aku menolak perasaan ini.
Atau paling tidak menghapus perasaan ini....
