030313
Dicatatan sebelumnya aku mengatakan ingin
berhenti saja bercerita. Tapi pada kenyataannya, hanya ini tempatku, hanya ini
penampunganku.
Hari ini, mulai dari catatan yang dibuat
ditanggal ini, aku akan bercerita kepada priaku. Priaku, Niko Haditia.
Priaku, aku harap kamu mau membaca catatan
kecilku. Atau paling tidak meliriknya, dan melihat betapa aku selalu memasukan
namamu disetiap waktuku.
Priaku, semua orang mengatakan bahwa dia mungkin
menyukaiku. Terlihat dari bagaimana dia selalu ada untukku. Bercerita (bbm atau
sms) tentang apapun sejak aku bangun dari lelap hingga aku kembali terlelap.
Walau kadang kita sama-sama sibuk dalam persiapan ujian, tapi dia menyempatkan
diri untuk sekedar basa-basi atau hanya menyapaku. Dia sering mengajakku
keluar. Hampir setiap ajakannya aku tolak, tapi dia tidak pernah bosan untuk
mengajakku lagi lagi dan lagi. Dia juga sering memintaku untuk mengajaknya
kerumah, entah siapa yang ingin dia temui dirumahku. Bahkan sampai saat ini
(saat aku menulis catatan ini) dia masih terus melakukannya. Saat kita
sama-sama bosan atau lelah dengan kesibukan sehari-hari, dia sering vn atau
meneleponku. Pembicaraannya pun standar, hanya tentang bertemu bermain atau
basa-basi lainnya. Basa-basi yang tak pernah basi. Priaku, dia bahkan
mengajakku melanjutkan pendidikan di Semarang bersamanya, dia bilang
menyenangkan jika bisa bersama.
Tapi dia bukan kamu. Dia sahabatku, pria itu
sahabatku. Pria dengan tubuh tegap hasil pelatihan bela diri, paras yang
menawan dan kulit yang bersih.
Priaku, dia tampan, dia sangat tampan. Dia mantan
kekasihku, orang yang pernah aku cintai selama lima setengah tahun. Tapi
sekarang aku tidak memiliki apa yang aku miliki pada kamu. Perasaan itu, aku
tidak memilikinya pada pria manapun kecuali priaku (niko).
Priaku, kali ini aku berpikir bagaimana untuk
bertahan tanpa tergoyahkan oleh pria manapun. Aku membutuhkan bantuan. Tangan untuk berpegang. Tangan untuk
memperkuat pilar disini (dihatiku). Harusnya bantuan itu darimu, dan
sepantasnya memang begitu. Tapi........
Priaku, aku tidak akan mekaksamu lagi untuk
menghubungiku. Bukan karena aku tidak butuh, tapi karena aku tidak lagi peduli.
Aku tidak peduli terhadap ketidak pedulianmu. Apa itu adil?
Priaku, aku menegaskan untuk kesekian kalinya.
Bahwa sebelum atau sesudah aku menulis semua catatan ini, aku tidak berpikir
untuk melepasmu.
*You are the best thing that’s
ever been mine
Mine - taylor swift
